<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: PERTANIAN ORGANIK WUJUD BARU KAPITALISME; Perspektif Ekologi dan Ekonomi</title>
	<atom:link href="http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/</link>
	<description></description>
	<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 20:13:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
		<item>
		<title>By: Ramses Harja</title>
		<link>http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/#comment-899</link>
		<dc:creator>Ramses Harja</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 10:48:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://learning-of.slametwidodo.com/?p=63#comment-899</guid>
		<description>Salam Kenal Bung Widodo..
Sampurasun Dulur....

Saya sepakat bahwa pertanian organik harus ditelaah kembali dalam konteks sistem kapitalism. Harus ada penelahaan lebih dalam soal apakah Pertanian Organik adalah wujud baru dari proses metamorfosis sistem kapitalism. Saya melihat memang kapitalism pandai dan cerdik untuk mempercantik diri dan memperhalus wajah supaya terkesan indah dan humanis. Tapi tetap wajah asli kapitalism tidak akan berubah. 

Saya simpati pada Bung yang tetap menyuarakan kaum marjinal di negeri ini. dan semoga lebih banyak lagi kawan lain yang mau berpikir dan bertindak untuk memperbaiki kaum marjinal di negeri ini.

Tanks
Hatur nuhun

Rams</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam Kenal Bung Widodo..<br />
Sampurasun Dulur&#8230;.</p>
<p>Saya sepakat bahwa pertanian organik harus ditelaah kembali dalam konteks sistem kapitalism. Harus ada penelahaan lebih dalam soal apakah Pertanian Organik adalah wujud baru dari proses metamorfosis sistem kapitalism. Saya melihat memang kapitalism pandai dan cerdik untuk mempercantik diri dan memperhalus wajah supaya terkesan indah dan humanis. Tapi tetap wajah asli kapitalism tidak akan berubah. </p>
<p>Saya simpati pada Bung yang tetap menyuarakan kaum marjinal di negeri ini. dan semoga lebih banyak lagi kawan lain yang mau berpikir dan bertindak untuk memperbaiki kaum marjinal di negeri ini.</p>
<p>Tanks<br />
Hatur nuhun</p>
<p>Rams</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: BUDI NARTAMA</title>
		<link>http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/pertanian-organik-wujud-baru-kapitalisme-perspektif-ekologi-dan-ekonomi/#comment-18</link>
		<dc:creator>BUDI NARTAMA</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 10:56:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://learning-of.slametwidodo.com/?p=63#comment-18</guid>
		<description>"sebagus apapun ideologi, jika tak sanggup memakmurkan akan ditinggalkan masyarakat", sebuah petikan kalimat yang pernah dilontarkan pada tahun 2002 pada saya oleh orang yang saat ini menjadi Rektor Universitas Brawijaya. Saat itu terasa pahit ditelinga dan batin sebagai orang yang pernah bergaul dengan kelompok pro demokrasi. Rasanya apa yang kusampaikan hanyalah omong kosong tentang pendidikan memanusiakan dan untuk semua. 

Ekonomi telah menjadi 'tuhan' kedua setelah pencipta alam semesta.
Saat ini saya hanya berfikir butuh tambahan 2 % penduduk negeri ini untuk mau berwiraswasta yang sedia bersaing, bertanding untuk meningkatkan taraf ekonomi, memberi tambahan makan untuk pegawai negeri dengan membayar pajak, memberi pekerjaan pada yang miskin. 

jadi wiraswasata memang harus 'serakah' obsesi itu susah tidak ada semangat untuk memajukan perusahaan. tapi dengan pajak yang dibayar  seharusnya keadilan itu tugasnya pemerintah dan penegak hukumnya. 

kami juga hidup tanpa status sosial yang ningrat, wajar jika dapat ganti status ekonomi mapan. Bukanlah suatu keadilan jika opini buruk selalu dialamatkan pada pengusaha.
kami bayar pajak, kami bayar pungutan tidak resmi, kami bayar biaya sosial yang sangat tinggi di negeri ini. Tapi lihatlah apa yang diberikan oleh kelompok Pro demokrasi selain hujatan dan agitasi para karyawan.
Lihatlah apa yang diberikan aparat negeri ini, selain keruwetan biarokrasi .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;sebagus apapun ideologi, jika tak sanggup memakmurkan akan ditinggalkan masyarakat&#8221;, sebuah petikan kalimat yang pernah dilontarkan pada tahun 2002 pada saya oleh orang yang saat ini menjadi Rektor Universitas Brawijaya. Saat itu terasa pahit ditelinga dan batin sebagai orang yang pernah bergaul dengan kelompok pro demokrasi. Rasanya apa yang kusampaikan hanyalah omong kosong tentang pendidikan memanusiakan dan untuk semua. </p>
<p>Ekonomi telah menjadi &#8216;tuhan&#8217; kedua setelah pencipta alam semesta.<br />
Saat ini saya hanya berfikir butuh tambahan 2 % penduduk negeri ini untuk mau berwiraswasta yang sedia bersaing, bertanding untuk meningkatkan taraf ekonomi, memberi tambahan makan untuk pegawai negeri dengan membayar pajak, memberi pekerjaan pada yang miskin. </p>
<p>jadi wiraswasata memang harus &#8217;serakah&#8217; obsesi itu susah tidak ada semangat untuk memajukan perusahaan. tapi dengan pajak yang dibayar  seharusnya keadilan itu tugasnya pemerintah dan penegak hukumnya. </p>
<p>kami juga hidup tanpa status sosial yang ningrat, wajar jika dapat ganti status ekonomi mapan. Bukanlah suatu keadilan jika opini buruk selalu dialamatkan pada pengusaha.<br />
kami bayar pajak, kami bayar pungutan tidak resmi, kami bayar biaya sosial yang sangat tinggi di negeri ini. Tapi lihatlah apa yang diberikan oleh kelompok Pro demokrasi selain hujatan dan agitasi para karyawan.<br />
Lihatlah apa yang diberikan aparat negeri ini, selain keruwetan biarokrasi .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
