Proses-Proses Perubahan Sosial; Dinamika Kelembagaan
Selama ini di desa telah ada seperangkat lembaga-lembaga yang muncul dan timbul dari inisiatif masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya. Umumnya lembaga-lembaga lokal ini masih bersifat sangat tradisional dengan berbagai kekurangankekurangan yang ada dari segi organisasi atau kelembagaan modern. Padahal di sisi lain pemerintah sebagai Stakeholder dari program pembangunan sangat memerlukan lembaga yang sangat mumpuni untuk menjadi wadah atau saluran pembangunan bahkan sarana paling tepat untuk percepatan pembangunan pedesaan. Berpijak pada realita semacam inilah maka pemerintah pun mengeluarkan kebijakan mengenai perlunya pembentukan lembaga kemasyarakatan modern dalam rangka pelaksanaan pembangunan di pedesaan dengan pertimbangan, bahwa lembaga kemasyarakatan modern yang dibikin pemerintah yang memang dirancang secara khusus untuk kegiatan pembangunan akan lebih memberikan peluang besar guna keberhasilan pembangunan itu sendiri dari pada pemerintah menggunakan lembaga kemasyarakatan yang sudah ada yang umumnya bercorak kultural, agamis dan tradisional.
Perubahan Sosial dan Gerakan Sosial
Perubahan sosial dapat terjadi apabila terdapat agen perubahan. Pada tingkat kelembagaan seringkali dijumpai adanya gerakan sosial. Gerakan sosial ini seringkali menjadi agen perubahan. Kondisi ideal perubahan yang terjadi merupakan proses tuntutan dari bawah (bottom up) namun seringkali pula perubahan melalui gerakan sosial juga berasal dari kalangan elit (top down).
Gerakan sosial merupakan bentuk dari kolektivitas orang-orang di dalamnya untuk membawa atau menentang perubahan. Gerakan sosial seringkali tidak berwujud organisasi formal, namun dapat pula merupakan bagian dari organisasi. Sehingga tidak mengherankan apabila di dalam organisasi terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan dan masing-masing mewujudkan dirinya dalam bentuk gerakan sosial.
Gerakan sosial dapat dilihat dari perspektif psikologi. Teori psikologi memfokuskan bahasannya pada karakteristik dari masing-masing individu. Salah satu teori yang berkembang adalah tentang psikologi massa merupakan salah satu bagian dari psikologi yang bertujuan untuk mengetahui perilaku/tindakan orang dalam satu kelompok yang besar, kerumunan maupun masyarakat dan bagaimana hubungan antara perilaku tersebut dengan kondisi biologis dan latar belakang budaya orang yang bersangkutan. Menurut para ilmuwan psikologi, seseorang memperlihatkan identitasnya tergantung dari kemampuannya untuk menggambarkan tidakannya, sebaik kemampuan untuk merespon tindakan dari orang lain. Psikologi massa fokus mempelajari tiga hal, yaitu: kebiasaan sosial yang dilakukan individu, interaksi satu individu dengan yang lain, dan gambaran individu dalam dunia sosial. Teori psikologi massa mencoba untuk menjelaskan kenapa identitas, status dan peran individu dipelihara atau dihilangkan oleh pengaruh dan tindakan individu lain dalam bentuk kelompok di masyarakat dan bagaimana orang menjadi terpengaruh dan mengikuti tren, mode, politik, pergerakan maupun agama.
Perubahan Sosial di Tingkat Kelembagaan
Berbagai analisis tentang perubahan sosial di tingkat kelembagaan pedesaan Jawa telah banyak diulas oleh para peneliti. Geertz telah memberikan penjelasan tentang hal itu. Konsep involusi pertanian dan kemiskinan berbagi yang disampaikan oleh Geertz menggambarkan kegagalan pembangunan pertanian di Jawa. Revolusi hijau membawa dampak pada terjadinya polarisasi penduduk Jawa menjadi golongan pemilik tanah dan buruh tani.
| Penulis | Kawasan Perubahan | Perubahan Sosial | Faktor Penyebab | Perspektif Perubahan |
|
Hayami & Kikuchi |
1. Hancurnya pranata sosial tradisional. 2. Menguatnya pengaruh organisasi modern. 3. Kepemilikan tanah, tenaga kerja dan kekuasaan lokal. |
1. Perubahan perilaku sosial ekonomi (dari tradisional ke modern). 2. Kemajuan organisasi modern. |
Revolusi hijau (teknologi) |
Materialis |
|
Tjondronegoro |
Tawar menawar kekuatan “atas desa ” dan “bawah desa”. |
Kekuatan partisipasi masyarakat desa. |
Pemerintah |
Sumber struktural |
|
Roepke |
Kelembagaan tradisional di pedesaan |
Perubahan hak panen (dari hak panen terbuka ke hak panen ekslusif) |
Revolusi hijau (teknologi) |
Materialis |
|
Kano |
Perubahan ekonomi masyarakat pedesaan Jawa |
1. Perubahan evolusioner (involusi pertanian) terjadi dengan adanya dukungan kelompok strategis (tuan tanah dan petani kaya progresif). 2. Involusi pertanian bukan disebabkan oleh revolusi hijau melainkan oleh perubahan tatanan sosial, ekonomi dan politik nasional. |
Perubahan di tingkat makro dan dukungan kaum progresif |
Interaksional |
Perubahan kelembagaan dipandang sebagai bentuk penyesuaian bentuk pranata di pedesaan menuju tatanan yang lebih efisien. Masuknya teknologi baru menjadi penyebab adanya ketidakefisienan pranata yang ada di pedesaan. Pandangan Marx tentang perubahan sosial menyatakan bahwa faktor materialis sebagai penyebab perubahan sosial. Masuknya teknologi menyebabkan perubahan moda produksi yang akhirnya membentuk perubahan pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik.
Beberapa tulisan yang mengkaji tentang perubahan kelembagaan di Jawa mengungkapkan hasil temuan yang beragam. Ulasan Geertz menjadi bahan dasar dalam kajian mereka. Tulisan Kiguchi dapat dikatakan bertentangan dengan tulisan Kano. Kano mencoba mendobrak pandangan dari Geertz tentang involusi pertanian sebagai akibat revolusi hijau. Walaupun menyangkal Geertz, Kano juga menyetujui bahwa revolusi hijau membawa bentuk perubahan berupa involusi. Namun Kano mempertanyakan apakah sebelum revolusi hijau proses involusi belum terjadi di Jawa. Perubahan di tingkat makro lebih penting dalam mewujudkan involusi pertanian dibandingkan dengan masuknya teknologi. Perubahan sosial yang terjadi juga disebabkan oleh dukungan kelompok strategis. Kano menyebutkan bahwa kelompok tuan tanah dan petani kaya sebagai pendukung proses perubahan sosial tersebut. Perebutan akses sumberdaya dan pelanggengan kekuasaan menjadi salah satu faktor penyebab lahirnya kelompok strategis ini. Perubahan semakin menjadi-jadi ketika teknologi masuk ke pedesaan.
Memudarnya kelembagaan tradisional juga digambarkan oleh Roepke. Penelitiannya tentang aktivitas panen menunjukkan bahwa sistem panen terbuka digantikan oleh sistem panen eksklusif. Pola ini terjadi karena adanya peningkatan investasi dalam usahatani yang disebabkan oleh biaya yang harus dibayar oleh petani terhadap teknologi baru. Panen terbuka menyebabkan berkurangnya keuntungan yang didapartkan oleh pemilik lahan, oleh karenanya sistem panen berubah menjadi panen ekslusif bahkan menuju bentuk kerja upah.
Sintesis
Perubahan sosial yang terjadi pada tingkat kelembagaan terjadi apabila keuntungan akan perubahan lebih besar daripada biaya atau kerugian yang ditanggung. Konsep ini tentu akan dapat diperdebatkan mengenai pihak siapa yang diuntungkan dan pihak mana yang dirugikan. Perspektif gerakan sosial melihat bahwa dalam kelembagaan atau organisasi modern akan tercipta kelompok-kelompok dengan tujuan yang sama baik mendukung perubahan atau menentang perubahan yang terjadi. Perspektif interasional melihat adanya kompetisi antar kelompok sebagai sebuah penyebab perubahan sosial. Kompetisi mungkin dapat berupa konflik kepentingan tentang perubahan itu sendiri. Tekanan dari luar dapat berupa teknologi (material) maupun ideologi yang berasal dari tingkat makro ataupun sumber struktural seperti pemerintah. Dinamika inilah yang terjadi pada kelembagaan yang pada akhirnya dapat menyebabkan perubahan sosial.
DAFTAR BACAAN
Harper, CL. 1989. Exploring Social Change. New Jersey. Prentice Hall.
Kano, H. 1980. Sejarah Ekonomi Masyarakat Pedesaan Jawa; Suatu Penafsiran Kembali. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Kikuchi, Masao dan Yujiro Hayami. 1987. Dilema Ekonomi Desa; Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Roepke, J. 1986. Perkembangan Pertanian dan Perubahan Hak Mengikuti Panen di Asia Tenggara; Budidaya Padi di jawa. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Tjondronegoro, SMP. 1999. Memudarnya Otonomi Desa dalam Keping-keping Sosiologi Pedesaan. Jakarta. Ditjen DIKTI.
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)



