Revolusi dan Perubahan Sosial
Perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses evolusi. suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk “evolusi” antara lain Herbert Spencer dan Augus Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk “kesempurnaan” masyarakat.
Bertolak belakang dengan perspektif tersebut, revolusi merupakan sebuah bentuk perubahan sosial yang berlangsung cepat. Revolusi merupakan wujud perubahan sosial yang spektakuler. Tulisan ini mencoba membandingkan berbagai perspektif tentang revolusi, antara lain yang disampaikan oleh Sztompka, Wertheim, Eisenstadt dan Horowitz.
Revolusi Sebagai Puncak Perubahan Sosial
Sztompka memberikan gambaran bahwa revolusi merupakan puncak dari perubahan sosial. Revolusi merupakan sebuah proses pembentukan ulang masyarakat sehingga menyerupai proses kelahiran kembali. Perubahan yang terjadi melalui revolusi mempunyai cakupan yang luas dan menyentuh semua tingkat dan dimensi masyarakat. Perubahan akibat revolusi bersifat radikal, fundamental dan menyentuh langsung pada inti dan fungsi dari struktur sosial. Proses perubahan tersebut hanya memerlukan waktu yang cepat, sesuatu yang bertolak belakang dengan konsep evolusi pada perubahan sosial.
Revolusi mempunyai dua wajah yang saling bertolak belakang. Wajah pertama menggambarkan revolusi sebagai sebuah mitos, sedangkan wajah kedua memberikan gambaran revolusi sebagai sebuah konsep dan bahkan teori dalam ilmu sosiologi. Kedua wajah ini mempunyai kesaling terkaitan bahkan dialektika diantara keduanya menjadi suatu bentuk kewajaran.
Konsep revolusi pada awalnya merujuk pada pengertian gerakan melingkar pada benda langit. Tidak mengherankan apabila kita mengenal istilah revolusi bumi terhadap matahari. Namun kemudian penggunaan konsep revolusi juga menyentuh pada bidang sosial politik. Perkembangan selanjutnya memberikan gagasan tentang pentingnya revolusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan lebih “sempurna”. Marx menggunakan konsep revolusi sebagai alat untuk menumbangkan dominasi kapitalis dan sebagai landasan untuk membangun masyarakat komunis.
Secara berangsur-angsur, mitos revolusi mengalami kemunduran. Ini terjadi tidak lepas dari “kegagalan” revolusi itu sendiri. Revolusi dipandang sebagai suatu proses yang tidak pernah berakhir. Tatanan kehidupan yang lebih baik seperti yang dijanjikan tidak dapat terwujud. Sejarah telah membuktikan bahwa sebagian besar revolusi menghasilkan bentuk ketidakadilan, ketimpangan, eksploitasi dan penindasan yang lebih parah. Selain itu revolusi seringkali harus diiringi dengan tindak kekerasan, peperangan dan kerusuhan yang menimbulkan korban jiwa tidak sedikit. Revolusi dianggap sebagai sebuah bencana dibandingkan sebagai sebuah usaha penyelamatan kehidupan manusia.
Konsep revolusi dapat dibahas dalam dua perspektif, yaitu filsafat sejarah dan sosiologi. Konsep revolusi berdaarkan filsafat sejarah mempunyai ari sebagai bentuk terobosan radikal terhadap kesinambungan jalannya sejarah. Perspektif sosiologi memandang revolusi sebagai bentuk penggunaan kekuatan massa terhadap penguasa untuk melakukan perubahan mendasar dan terus-menerus. Revolusi dapat dianggap sebagai upaya membentuk ulang sejarah dengan menggunakan kekuatan krativitas manusia.
Kedua perspektif tersebut turut mempengaruhi pendefinisian konsep revolusi hingga pada akhirnya mengerucut pada tiga kelompok. Revolusi dapat diartikan sebagai lawan dari pembaruan. Perhatian utamanya adalah pada proses transformasi fundamental masyarakat. Selain itu, revolusi dapat dimaknai sebagai lawan dari evolusi. Tekanan yang diberikan adalah pada penggunaan kekerasan, perjuangan dan kecepatan perubahan yang terjadi.
Terdapat empat aliran dalam teori revolusi, yaitu tindakan, psikologi, struktural dan politik. Aliran tindakan disampaikan oleh Sorokin yang menitikberatkan pengamatan pada peran tindakan individu dalam revolusi. Secara garis besar terdapat dua kondisi yang mendorong terjadinya revolusi, yaitu tekanan dari bawah dan kelemahan dari atas. Aliran psikologi mengabaikan tindakan reflek atau naluriah dan beralih pada bidang orientasi sikap dan motivasi. Teori struktural memusatkan pada tingkat struktur makro dengan mengabaikan faktor psikologi.
Revolusi dan Emansipasi
Sebuah pertanyaan awal yang dilontarkan oleh Wertheim tentang revolusi dan pemberontakan dapat dijadikan bahan diskusi menarik. Revolusi merupakan bentuk penumbangan kekuasaan yang seringkali berwujud kekerasan atau pemberontakan. Namun demikian tidaklah tepat apabila kita memberikan definisi yang sama antara revolusi dan pemberontakan. Revolusi dapat berupa pemberontakan atau peperangan, namun tidak berarti revolusi adalah peperangan dan pemberontakan.
Revolusi selalu memiliki tujuan fundamental untuk menumbangkan kekuasaan masyarakat atau susunan kekuasaan yang bercokol, sedangkan semua jenis gangguan keamanan seperti kerusuhan atau pemberontakan hanya merupakan bentuk perlawanan kepada penguasa yang bertujuan menggeser atau mencopot kedudukan mereka.
Tekanan utama Wertheim dalam memahami konsep revolusi adalah tujuan fundamentalnya untuk merubah susunan masyarakat yang berlaku. Perubahan susunan masyarakat ini menjadi sebuah keharusan bagi lapisan bawah untuk menghapus ketimpangan struktur yang terjadi. Perubahan stuktur kekuasaan seringkali harus dilakukan dengan kekerasan. Hal inilah yang seringkali menimbulkan kerancuan antara revolusi dan pemberontakan. Konsep revolusi memberikan kita pemahaman pada sebuah proses perubahan yang berlangsung sangat cepat dan fundamental. Suatu yang berbeda dengan konsep evolusi.
Revolusi dan Transformasi Masyarakat
Revolusi oleh Eisenstadt dipahami sebagai kondisi dan keadaan bagaimana konflik antar elit atau kelas, frustasi atau memuncaknya pengharapan dan sebagainya. Kondisi ini menimbulkan apa yang seringkali disebut sebagai revolusi dan transformasi sosial. Revolusi menimbulkan kemerosotan dan disintegrasi suatu rezim atau kekuasaan sekaligus juga dapat menimbulkan perubahan dan transformasi sosial secara meluas. Konflik sosial, pemberontakan, perubahan dan transformasi merupakan suatu yang inheren dalam masyarakat, namun kombinasi tiap komponen tindakan sosial yang ada pada sebuah revolusi merupakan proses yang unik dari berlangsungnya perubahan dan transformasi sosial.
Revolusi telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat modern. Pengalaman-pengalaman proses revolusi telah melahirkan asumsi dasar pemikiran sosial politik yang berguna dalam analisis sosiologi modern tentang perubahan sosial. Pengalaman revolusi di Eropa membawa dampak pada citra yang melekat pada konsep revolusi. Revolusi ala Eropa dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia dan dianggap sebagai model yang paling tepat untuk melakukan perubahan sosial secara fundamental dan cepat.
Revolusi seringkali digambarkan dalam beberapa komponen, diantaranya kekerasan, pembaharuan dan perubahan yang menyeluruh. Proses revolusi dipahami sebagai proses yang amat luar biasa, sangat kasar dan merupakan gerakan yang paling terpadu dari seluruh gerakan sosial lainnya. Revolusi terjadi sebagai akibat adanya penyimpangan sosial atau ketimpangan yang sangat fundamental. Telaah konflik antar kelas menjadi kajian yang menarik dalam revolusi.
Revolusi membawa dampak pada perubahan melalui kekerasan terhadap rezim politik yang ada. Perubahan ini dilakukan melalui penggantian elit politik atau kelas yang berkuasa. Perubahan secara mendasar pada berbagai bidang kelembagaan yang ada. Hubungan dengan sistem lama seolah-olah diputuskan secara radikal. Revolusi juga membawa pengaruh pada bangkitnya kekuatan ideologis dan orientasi kebangkitan mengenai gambaran revolusioner. Hal ini menggambarkan bahwa revolusi tidak hanya membawa transformasi kelembagaan melainkan juga perubahan terhadap sistem pendidikan dan moral sehingga mewujudkan “manusia baru”.
Revolusi dan Pembangunan
Seperti kita ketahui bersama, pengelompokkan negara-negara di dunia berdasarkan proses pembangunannya menjadi tiga kelompok besar. Namun Horowitz memberikan tambahan satu kelompok negara lagi sehingga keseluruhan menjadi empat kelompok negara.
Pembangunan ala modernisasi tidak dapat lepas dari bantuan negara maju. Program bantuan berawal dari kebijakan Marshall Plann yang diambil oleh Amerika Serikat untuk membangun kembali Eropa Barat yang lemah dalam hal ekonomi sebagai akibat dari Perang Dunia II. Pada masa ini, Amerika Serikat berhasil mengambil peran yang dominan dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Bantuan yang ditawarkan oleh Amerika juga mempunyai misi politik yaitu untuk membendung kekuatan ideologi komunis yang berkembang pesat. Terlebih lagi pada masa itu banyak bermunculan negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Perang ideologi menjadi sebuah alasan bagi Amerika Serikat untuk mencari “sekutu” baru dan membendung kekuatan komunis.
Namun kenyataan yang ada menunjukkan bahwa dengan tingkat bunga yang rendah tersebut, negara miskin masih mengalami kesulitan untuk membayar hutang luar negeri. Beban hutang luar negeri semakin lama semakin besar dan menjadi ciri tersendiri bagi pembangunan pada negara dunia ketiga. Bantuan luar negeri dan invastasi swasta asing sebenarnya merupakan sebuah sinergi karena sebagian besar bantuan asing membawa keuntungan komersial bagi perusahaan yang berada di negara donor. Berbagai program pembangunan yang dilakukan oleh negara miskin sebagian besar menggunakan tenaga ahli dan teknologi yang juga berasal dari negara donor.
Pada dasa warsa pembangunan pertama, terdapat keinginan dunia ketiga untuk memaksakan dunia pertama agar memberikan bantuan berupa moneter, komoditi, makanan dan sebagainya. Harapan dunia ketiga disertai dengan sebuah ancaman terselubung bahwa kegagalan untuk memberikan bantuan kemungkinan akan menyebabkan revolusi sosialis. Pada dasawarsa pembangunan yang kedua, telah melahirkan sebuah tuntutan atas persamaan dalam perdagangan. Revolusi dipahami sebagai represi. Represi ini diakibatkan oleh tekanan yang kuat sebagai akibat hubungan antara dunia dan dunia ketiga, sehingga dunia ketiga berkeinginan untuk membebaskan diri kungkungan dunia pertama.
Sintesis
Berbagai konsep revolusi yang telah disampaikan didepan mempunyai sebuah gagasan yang sama yaitu sebagai bentuk perubahan sosial yang dahsyat dan bersifat fundamental dalam merubah tatanan masyarakat dalam waktu yang relatif cepat. Terdapat faktor pencetus yang menyebabkan revolusi dapat berjalan dalam suatu masyarakat. Berbagai teori menyampaikan pendapatnya tentang faktor penyebab ini, namun kesemuanya dapat disimpulkan sebagai sebuah hasil dari ketidakadilan dalam masyarakat. Kondisi ketidakadilan atau penyimpangan inilah yang melahirkan semangat revolusi.
Akibat dari revolusi secara garis besar dapat dilihat dari tumbangnya penguasa lama dan digantikannya oleh tatanan penguasa baru. Selain merubah tatanan kepemimpinan, revolusi mampu merubah segala aspek kehidupan masyarakat.
| Faktor Pembeda | Sztompka | Wertheim | Eisenstadt | Horowitz |
|
Pembatasan konsep revolusi |
Mengungkapkan adanya dua wajah revolusi, yaitu mitos dan teori. Sztompka memberikan gambaran bahwa revolusi merupakan puncak dari perubahan sosial. Perubahan akibat revolusi bersifat radikal, fundamental dan menyentuh langsung pada inti dan fungsi dari struktur sosial. |
Mengungkapkan perbedaan antara revolusi dengan pemberontakan. Tekanan utama dalam memahami konsep revolusi adalah tujuan fundamentalnya untuk merubah susunan masyarakat yang berlaku. |
Revolusi dipahami sebagai kondisi dan keadaan bagaimana konflik antar elit atau kelas, frustasi atau memuncaknya pengharapan dan sebagainya. |
Revolusi dipahami sebagai represi. Represi ini diakibatkan oleh tekanan yang kuat sebagai akibat hubungan antara dunia dan dunia ketiga, sehingga dunia ketiga berkeinginan untuk membebaskan diri kungkungan dunia pertama. |
|
Unit analisis |
Meso (negara) |
Meso (negara) |
Mezo (negara) |
Makro (dunia) |
|
Faktor penyebab revolusi |
Terdapat empat aliran dalam teori revolusi, yaitu tindakan, psikologi, struktural dan politik. |
Aspek situasional, faktor ekonomi, faktor sosial, faktor politik, faktor psikologis dan faktor pemicu |
Sejarah alami, teori psikologi, krisis rezim. |
Ketimpangan struktur ekonomi antar negara. |
Bahan Bacaan
Sztompka, P. 1994. The Sociology of Social Change. Oxford: Blackwell Publisher.
Wertheim, WF.. 1999. Gelombang Pasang Emansipasi : Evolusi dan Revolusi. Jakarta : Garba Budaya & ISAI.
Horowitz, LI. 1981. Perubahan-Perubahan dan Pembangunan Tiga Sistem Dunia” dalam Revolusi, Militerisasi dan Konsolidasi Pembangunan. Jakarta : PT Bina Aksara.
Eisenstadt, SN. 1987. Revolusi dan Transformasi Masyarakat. Jakarta: CV. Rajawali.
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)



