STRUKTUR KETERGANTUNGAN DAN MODA PRODUKSI
Kapitalisme yang pada awalnya hanyalah perubahan cara produksi dari produksi untuk dipakai ke produksi untuk dijual, telah merambah jauh jauh menjadi dibolehkannya pemilikan barang sebanyak-banyaknya, bersama-sama juga mengembangkan individualisme, komersialisme, liberalisasi, dan pasar bebas. Kapitalisme tidak hanya merubah cara-cara produksi atau sistem ekonomi saja, namun bahkan memasuki segala aspek kehidupan dan pranata dalam kehidupan masyarakat, dari hubungan antar negara, bahkan sampai ke tingkat antar individu. Sehingga itulah, kita mengenal tidak hanya perusahaan-perusahaan kapitalis, tapi juga struktur masyarakat dan bentuk negara.
Perubahan moda produksi dari yang semula berbasiskan pertanian menjadi industri menjadi sesuatu yang menggejala di Indonesia. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini bercirikan modernisasi dengan tolok ukur pertumbuhan ekonomi semakin membenarkan proses perubahan moda produksi ini. Pada awal pemerintahan orde baru, kebijakan pembangunan Indonesia masih bertupu pada sektor pertanian yang seiring berjalannya waktu terus bergeser menuju sektor industri. Diantara kedua fase tersebut terdapat fase antara yaitu pembangunan yang bertumpu pada sektor pertanian yang mampu menopang industri.
Sosiologi Kerja dan Industri
Perkembangan masyarakat pada abad 20 ini tidak dapat lepas dari berbagai macam pengaruh masuknya introduksi teknologi dan tata nilai budaya yang baru. Industrialisasi berkembang seiring revolusi industri yang berkembang di kawasan eropa yang ditandai dengan penemuan mesin-mesin industri. Perubahan struktur masyarakat yang semula berbasis agraris menjadi berbasis industri menyebabkan lahirnya topik kajian sosiologi yaitu sosiologi kerja dan industri. Topik kajian ini dapat dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan teoritis dan pendekatan ranah studi. Secara teoritis, terdapat enam teori besar yang dapat menjadi dasar pemikiran sosiologi kerja dan industri sedangkan ranah studi dapat dibedakan menjadi lima bagian. Teori yang menjadi dasar pemikiran sosiologi kerja dan industri antara lain manajerial psikologistik, Durkheim, interaksionisme, Webberian, Marxian dan psotmodern. Sedangkan ranah studinya dibagi menjadi hubungan pekerjaan, organisasi, masyarakat industri kapitalis, pekerjaan dan kerja.
Moda Produksi Ala Marx
Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.
Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi. Perjuangan ini dilakukan melalui revolusi. Marx menyatakan bahwa negara terbelakang akan memerlukan dua tahap revolusi, yaitu revolusi borjuis dan revolusi sosialis. Revolusi borjuis dilakukan oleh kelas borjuis nasional untuk melawan penindasan oleh negara maju dan kemudian baru berlanjut pada revolusi sosialis oleh kelas proletar. Asumsi ini runtuh karena kelas borjuis nasional ternyata tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya sebagai pembebas kelas proletar dari eksploitasi kapitalisme, karena kelas borjuis nasional sendiri merupakan bentukan dan alat kapitalisme negara maju.
Munculnya Golongan Pengusaha Pada Masyarakat Batak Toba
Kemunculan golongan pengusaha sebagai salah satu ciri perubahan moda produksi patut untuk dipertanyakan. Sebenarnya berasal dari manakah golongan pengusaha ini muncul. Max Weber berpendapat bahwa golongan pengusaha kapitalis yang diilhami oleh etika protestan dan jiwa kapitalisme terutama berasal dari kelas menengah kebawah yang kurang terikat tradisi, bukannya dari kalangan aristokrat yang terikat tradisi. Studi-studi yang telah dilakukan juga memperkuat dugaan Weber ini. Golongan pengusaha berasal dari kalangan marjinal yang berjuang dengan keras untuk menanggulangi marjinalisasi yang melanda diri dan keluarganya. Dugaan Weber ini juga semakin mempertahankan pendapat Marx yang menyatakan bahwa kemunculan kapitalis kecil yang kemudian berkembang menjadi kapitalis besar adalah dari kalangan kelas bawah.
Tesis Weber tampaknya tidak sepenuhnya dapat diterima apabila memahami fenomena kemunculan kelas pengusaha di Indonesia. Kelas pengusaha yang dapat dikatakan sebagai kapitalis dapat muncul dari berbagai kalangan baik dari kelas elit maupun kelas bawah. Geertz bahkan telah memberikan bukti bahwa pengusaha pribumi lahir dari kalangan elit tradisional. Tesis Weber dapat diterima pada kelas pengusaha etnis China. Etnis China pada awalnya adalah imigran buruh pada perkebunan Hindia Belanda yang mampu melakukan akumulasi modal sehingga menjelma menjadi kelas pengusaha. Namun demikian terdapat perbedaan yang mendasar antara pengusaha etnis China dengan pengusaha pribumi. Perbedaan budaya antara keduanya sangat tajam, pengusaha pribumi memiliki latar belakang “budaya pertanian” sedangkan pengusaha China memang sudah memiliki “budaya perdagangan” secara turun temurun.
Kemunculan golongan pengusaha tidak dapat lepas dari kekuatan sosial supra lokal, seperti negara. Dukungan politik yang diambil pemerintah sangat berpengaruh terhadap perkembangan golongan pengusaha ini. Kebijakan terhadap pengusaha identik dengan model pembangunan yang diterapkan, apakah akan pro kapitalis nasional atau malahan membela kapitalis asing.
Status sosial golongan pengusaha biasanya berada pada “kelas menengah”. Pada masa Hindia Belanda tampak sekali bahwa kelas atas dihuni oleh kaum penjajah, sedangkan kelas menengah diisi oleh kaum bangsawan dan pengusaha China, hingga kelas terendah yang ditempati oleh rakyat jelata (petani). Pemberian kelas menengah pada pengusaha di Indonesia dinilai kurang tepat. Pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, pengusaha nasional dianggap tidak mampu mandiri dan selalu tergantung pada pasar dan kebijakan pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan kaburnya batas antara pengusaha dan penguasa, sehingga memunculkan pendapat tentang “kelompok strategis” yang disampaikan oleh Evers dan Scheil. Kelompok ini disebut sebagai kelompok strategis karena mempunyai arti strategis dalam perkembangan masyarakat dan masing-masing secara aktif bertindak untuk mewakili kepentingan ekonomi dan politiknya sendiri.
Golongan pengusaha industri tenun dalam masyarakat Batak Toba di Balige umumnya berasal dari kelompok elit tradisional, sebagian besar petani yang kemudian tampil sebagai elit ekonomi melalui perdagangan dan jasa. Sebagian kecil lainnya berasal dari petani subsisten yang pernah menjadi buruh pada industri tenun milik para tokoh perintis di Balige. Temuan ini selaras dengan pernyataan Weber dan Marx tentang asal usul pengusaha kapitalis yang berasal dari kalangan kelas bawah. Namun demikian, jauh lebih tepat lagi apabila hasil penelitian ini dihubungkan dengan pernyataan Wertheim dan Geertz yang menyatakan bahwa golongan pengusaha di Indonesia berasal dari kalangan elit tradisional yang sekaligus merupakan kalangan elit ekonomi juga.
Kemunculan pengusaha industri tenun di Balige merupakan hasil rekayasa pemerintah. Rekayasa ini dapat berhasil karena dalam masyarakat Batak Toba Balige sendiri telah terdapat prakondisi kapitalis yaitu adanya pembentukan modal uang oleh elit sosial ekonomi tradisional melalui usaha di luar sektor pertanian dan unsur pembentukan golongan buruh upahan potensial di sektor pertanian subsisten. Buruh ini tidak merupakan “korban” perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, namun buruh yang bekerja pada industri tenun ini pada umumnya berasal dari kalangan keluarga sendiri dan bekerja di luar “jam kerja” pertanian.
Golongan pengusaha kapitalis lokal adalah kelas menengah yang berperan sebagai pelopor dan penggerak transformasi sosial dalam komunitas lokal yang bersangkutan. Golongan ini bukan merupakan golongan yang mandiri, melainkan sebagai klien dari pemerintah sehingga membentuk hubungan patron-klien. Status kelangsungan sosial golongan pengusaha kapitalis merupakan resultan dari faktor-faktor intenitas reproduksi kultur dan struktur agraris dalam perusahaan, taraf keterdesakan pengusaha dalam persaingan, kemampuan bertahan terhadap “serbuan” kapitalis nasional maupun asing dan dukungan negara melalui kebijaksanaan pembangunan ekonomi nasional.
Moda Produksi
Moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.
Tipe-tipe moda produksi, antara lain :
1. Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.
2. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.
3. Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal.
Struktur Ketergantungan dan Dinamika Pembangunan Pertanian
Dari ulasan yang disampaikan di depan tampak bahwa moda produksi yang berubah menuju moda produksi kapitalis menimbulkan struktur ketergantungan. Moda produksi kapitalis yang dicirikan oleh tumbuhnya industri besar yang padat modal dan teknologi menyebabkan ketergantungan terhadap investasi. Buruh ditempatkan pada posisi tergantung dengan kaum pemilik modal. Hal serupa juga terjadi pada negara terbelakang yang juga tergantung dengan negara maju sebagai akibat investasi yang telah diberikan oleh negara maju.
Moda produksi kapitalis tidak mampu menciptakan kemandirian, namun menciptakan struktur ketergantungan. Moda produksi kapitalis yang juga melanda pedesaan kita melalui revolusi hijau telah menyebabkan petani menjadi tergantung dengan pemerintah melalui kebijakan subsidi sarana produksi. Ketergantungan petani terhadap pasar juga semakin meningkat dengan perubahan moda produksi. Moda produksi kapitalis sangat tergantung dengan kondisi pasar yang berupa sensitivitas terhadap permintaan dan penawaran. Selama orde baru, pembangunan pertanian Indonesia ternyata telah menggeser moda produksi dari pra kapitalis menuju kapitalis. Disparitas antara kaya dan miskin semakin lebar, struktur agraria menjadi sangat timpang yang menyebabkan semakin meningkatnya jumlah “petani tanpa tanah”.
Pertanian yang menggunakan pendekatan industri ini tumbuh dengan baik karena didukung oleh teknologi dan modal yang cukup kuat. Revolusi hijau yang berusaha meningkatkan produktivitas lahan dengan menggunakan teknologi baru baik berupa benih, pupuk, pestisida ataupun penggunaan mesin pertanian yang menggantikan tenaga kerja manusia. Pertimbangan efisiensi menyebabkan penggunaan mesin-mesin pertanian lebih menjadi pilihan karena biaya operasional yang murah dan hasil yang lebih besar.
Transformasi pertanian membawa dampak pertanian Indonesia yang semula padat karya menjadi padat modal. Konsekuensinya adalah tenaga kerja yang semula mampu ditampung pada sektor pertanian harus beralih ke sektor lainnya. Perpindahan tenaga kerja ini tidak semudah membalik telapak tangan karena tidak semua tenaga kerja pertanian memiliki kemampuan untuk bekerja di luar sektor pertanian apalagi industri. Akhirnya semua bermuara pada masalah baru, yaitu kemiskinan.
DAFTAR REFERENSI
T. Watson. 1997. Sociology, Work and Industry. London; Routledge and Vengan Paul.
M.T. Felix Sitorus. 1999. Pembentukan Golongan Pengusaha Loka di Indonesia; Pengusaha Tenun dalam Masyarakat Batak Toba. Disertasi. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
F. Magnis Suseno. 1998. Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta. Gramedia.
Slamet Widodo adalah seorang warga negara Republik Indonesia![PusatLowongan[dot]com](http://pusatlowongan.com/images/lowongan kerja.jpg)



